Bandung – Industri perhotelan di Indonesia terus beradaptasi dengan perilaku wisatawan modern yang menginginkan lebih dari sekadar tempat tidur. Kini, tren hotel butik dengan konsep homey luxury atau kemewahan bernuansa rumahan sedang naik daun, terutama di kawasan pusat bisnis seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Berbeda dengan hotel bintang lima yang megah dan formal, hotel butik hadir dengan jumlah kamar terbatas (biasanya 10–30 kamar) dan menonjolkan desain interior personal. Desainnya tidak lagi mengikuti standar kaku, melainkan menampilkan identitas lokal yang dipadukan dengan kenyamanan modern. Contohnya, penggunaan furnitur dari kayu jati bekas, lantai teraso, serta koleksi seni dari seniman lokal.
Salah satu properti yang sukses mengusung konsep ini adalah “Omah Seni Residence†di kawasan Dago, Bandung. Properti ini menyulap bangunan tua bergaya kolonial menjadi 15 kamar unik dengan tema berbeda setiap ruangan. “Kami ingin tamu merasa seperti menginap di rumah teman yang sangat nyaman, tetapi tetap ada layanan hotel standar internasional seperti room service 24 jam dan concierge,†ujar Dian Puspita, Manajer Operasional properti tersebut.
Dari sisi investasi, properti hotel butik dinilai memiliki Return on Investment (ROI) yang menarik karena mampu menawarkan harga per malam lebih tinggi dibandingkan hotel melati biasa. Harga rata-rata kamar berkisar antara Rp800.000 hingga Rp2.000.000 per malam, namun tingkat huniannya stabil di angka 70-80% berkat pemasaran digital yang tepat sasaran.
Para pemilik properti juga mulai melirik sistem revenue sharing dengan manajemen hotel profesional. Hal ini memudahkan investor yang tidak ingin repot mengurus operasional harian. Tak heran jika di tahun 2025 ini, pembangunan hotel butik tumbuh hingga 35% di kota-kota besar sekunder seperti Malang dan Solo.