Tangerang Selatan – Pandemi telah mengubah cara orang bekerja dan berlibur. Konsep work from anywhere (WFA) melahirkan tren baru: staycation panjang di penginapan yang tidak hanya nyaman untuk beristirahat, tetapi juga mendukung produktivitas kerja. Hal ini dimanfaatkan oleh banyak pemilik properti residensial untuk mengalihfungsikan rumah tinggal mereka menjadi butik penginapan eksklusif.
Alih fungsi rumah ke penginapan bukan lagi hanya sekadar menyewakan kamar kos. Kini, pemilik properti merombak total desain interior dan eksterior agar memiliki fasilitas seperti co-working space mini, dapur bersama yang Instagramable, hingga podcast room kecil. Target pasarnya adalah pekerja jarak jauh, digital nomad, atau keluarga muda yang butuh staycation singkat.
Salah satu properti yang sukses melakukan transformasi adalah “ROOM+ Bintaro†yang sebelumnya merupakan rumah tinggal tua seluas 250 meter persegi. Properti ini diubah menjadi 5 kamar tidur berkonsep minimalist zen, ditambah ruang kerja bersama dengan koneksi internet 100 Mbps dan ruang rapat kecil. Area belakang rumah disulap menjadi kafe dengan menu minuman sederhana.
“Investasi renovasi sekitar Rp450 juta, tetapi dalam 8 bulan sudah kembali 40% dari tingkat hunian 85%. Tamu biasanya menginap minimal 3 malam, ada yang sampai 2 minggu. Mereka mencari tempat yang seperti rumah, tapi ada layon cleaning service dan Wi-Fi cepat,†ujar Sinta Dewi, pemilik properti sekaligus arsitek.
Dari sisi legal, alih fungsi rumah tinggal ke penginapan butuh perubahan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menjadi Izin Usaha Pariwisata. Namun, pemerintah melalui program One Stop Service memudahkan proses ini untuk properti di bawah 10 kamar. Para pakar properti memprediksi tren ini akan terus berkembang karena nilai sewa per malam bisa 3-4 kali lipat dari sewa bulanan rumah biasa.