Yogyakarta – Kesadaran akan pariwisata berkelanjutan mendorong lahirnya konsep penginapan ramah lingkungan atau eco-lodge. Berbeda dengan hotel konvensional, eco-lodge mengutamakan prinsip konservasi, penggunaan energi terbarukan, dan minim sampah. Tren ini semakin diminati oleh wisatawan milenial dan Gen Z yang mencari ketenangan serta pengalaman otentik di alam.
Salah satu contoh sukses adalah “Lumintu Forest Stay†yang berlokasi di lereng Gunung Merapi. Seluruh bangunannya terbuat dari bambu dan kayu sisa reboisasi, tanpa menggunakan semen atau cat sintetis. Air panas berasal dari pemanas tenaga surya, dan sistem pengolahan air limbahnya menggunakan metode constructed wetland (lahan basah buatan) untuk menyuburkan taman sekitar.
“Banyak tamu yang awalnya ragu dengan kenyamanan eco-lodge, tetapi setelah mencoba, mereka justru ketagihan. Suara alam, udara segar, dan desain yang menyatu dengan lingkungan memberikan efek terapi tersendiri,†jelas Rizky Firmansyah, pendiri Lumintu Forest Stay. Properti ini hanya memiliki 8 unit pondok dan selalu penuh hingga 2 bulan ke depan, terutama saat akhir pekan.
Dari sisi properti, eco-lodge menawarkan keuntungan lebih rendah biaya operasional karena tidak bergantung pada listrik PLN secara penuh. Investasi awal untuk pembangunan memang lebih tinggi karena material alami dan teknologi ramah lingkungan, namun dalam jangka panjang, biaya perawatan lebih murah. Nilai jual properti semacam ini juga cenderung naik karena langka dan memiliki sertifikasi green building.
Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata mulai mempermudah perizinan bagi penginapan ramah lingkungan, bahkan memberikan insentif pajak. Karena itu, banyak investor properti yang kini beralih ke lahan-lahan di kawasan desa wisata atau kawasan hutan lindung untuk mengembangkan eco-lodge dengan kapasitas kecil namun nilai khas tinggi.